Sektor Pariwisata Indonesia Menggeliat Di Tengah Krisis Global
Jumat, 26 Juni 2009
(Berita Daerah - Nasional) - Ada yang aneh dengan pertumbuhan pariwisata di Indonesia jika dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan pariwisata di dunia.
United Nations World Tourism Organization (UNWTO) memprediksi tingkat pertumbuhan wisata dunia hanya mencapai nol sampai minus dua persen akibat krisis global yang melanda negara-negara di dunia.
Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Wardiyatmo mengatakan pertumbuhan pariwisata Indonesia sejak Januari hingga April 2009 telah mencapai 1,5 persen.
"Ini kan artinya pertumbuhan pariwisata kita baik sekali," kata Wardiyatmo.
Ia mengatakan neraca perjalanan 2008 mengalami surplus 1,7 miliar dolar Amerika, yang artinya hal itu dapat memperkuat neraca pembayaran. Ia menambahkan sektor yang mengalami surplus pada neraca perjalanan hanya sektor pariwisata dan sektor tenaga kerja.
Sektor pariwisata menyumbang hampir lima persen untuk Product Domestic Bruto (PDB) 2008 dengan mendatangkan sebanyak 6,4 juta wisatawan ke Indonesia.
"Untuk tahun 2009, target kita nggak muluk-muluk, cukup sampai 6,5 juta wisatawan saja," kata Wardiyatmo.
Ia menargetkan sumbangan sektor pariwisata terhadap PDB sebesar 5,5 hingga enam persen pada 2010 berdasarkan data Neraca Satelit Pariwisata Nasional.
Wardiyatmo bahkan mengatakan Depbudpar akan menargetkan 10 persen pendapatan pada PDB dengan mendatangkan 10 juta wisatawan mancanegara.
Menurut Wardiyatmo, setiap tahun pertumbuhan ekonomi pariwisata lebih besar dari pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia mengatakan strategi untuk mencapai target PDB ialah dengan meningkatkan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusatara karena variabel PDB yaitu pengeluaran dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara, pengeluaran pemerintah pusat dan daerah, serta pengeluaran industri pariwisata.
Ia mengatakan pertumbuhan pariwisata terkait dengan perkembangan empat komponen, yaitu pasar, obyek wisata, transportasi, serta strategi pemasaran.
Pertama, berdasarkan data-data di atas, Indonesia sudah memiliki pasar, yaitu wisatawan asing dan wisatawan nusantara.
Kedua, obyek wisata di Indonesia yang utama adalah keindahan alamnya. Potensi keindahan alam Indonesia tidak kalah dengan keindahan alam negara-negara lainnya.
Wardiyatmo menambahkan, untuk mempertemukan pasar dan obyek wisata, maka dibutuhkan dua jembatan yang akan menghubungkannya, yaitu komponen transportasi sebagai jembatan fisik dan strategi pemasaran.
Namun dibalik pertumbuhan sektor pariwisata yang kian optimistis, Wardiyatmo mengakui bahwa Indonesia masih lemah dalam pencitraan sebagai tempat tujuan wisata yang potensial.
"Banyak yang bilang promosi kita masih lemah,"kata Wardiyatmo.
Ia mengatakan lemahnya promosi terkait dengan pendanaan di bidang promosi. Jika negara-negara lain menghabiskan dana 10 dolar Amerika per wisatawan untuk promosi, maka Indonesia baru menghabiskan satu hingga dua dolar Amerika per wisatawan.
Untuk mendukung strategi pemasaran pariwisata tersebut, pemerintah menambah anggaran Depbudpar Rp200 miliar pada 2010 untuk promosi pariwisata. Pada 2009, anggaran promosi pariwisata sebesar Rp260 miliar.
"Jadi tahun depan total anggaran untuk promosi pariwisata Rp460 miliar," kata Wardiyatmo.
Menurut Direktur Fortune Indonesia, Indira Abidin, Indonesia mempunyai alam yang sangat indah jika dibandingkan dengan Malaysia dan tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan Thailand.
"Singapura bahkan tidak mempunyai sumber daya alam, ia hanya mempunyai pusat-pusat perbelanjaan namun mampu mencitrakan diri sebagai tempat wisata belanja," kata perempuan lulusan Boston University itu.
Menurut Indira, strategi pencitraan bukan hanya mengenai biaya, namun bagaimana membuat strategi pencitraan pariwisata Indonesia yang terintegrasi dan pas dengan kebutuhan serta menjadi solusi dari permasalahan wisata di Indonesia.
Ia mengatakan strategi tersebut harus melalui penelitian dan merefleksikan kebutuhan pasar, kemudian strategi tersebut diterapkan dengan eksekusi promosi dengan baik.
Indira mencontohkan strategi pemasaran Florida yang mempunyai kasus hampir sama dengan Indonesia. Pada tahun 90-an, Florida terkena isu keamanan, yaitu permasalahan tingkat kriminalitas yang tinggi dan isu rasial yang berkembang.
Dari isu keamanan tersebut, Florida kemudian terkena `travel warning` dari sejumlah negara Eropa sehingga perekonomian Florida sempat goyah karena pendapatan Florida sebanyak 30 persen berasal dari sektor pariwisata.
Menurut Indira, strategi pemasaran yang diterapkan Florida pada saat itu adalah menerapkan kampanye `Miami Nice Programme` yang dipelesetkan dari film Miami Vice. Eksekusi dari strategi pemasaran Florida melalui tiga tahap, yaitu perbaikan internal, `hard selling`, dan `soft selling`.
Perbaikan internal yaitu dengan melibatkan semua masyarakat untuk mengikuti program `Miami Nice Customer Service Programme` tersebut, yaitu dengan melibatkan pihak universitas hingga sopir taksi. Sopir taksi kemudian diajari cara menyapa yang baik bahkan bisa menjadi pemandu wisata yang baik.
"Kalau di Indonesia, itu sudah diterapkan di Jogjakarta," kata Indira. Menurut Indira, pemerintah Florida juga menempatkan fasilitas-fasilitas keamanan di sejumlah lokasi di Florida, misalnya terdapat fasilitas `safety booth` di bandara dan di hotel, kemudian ada frekuensi radio khusus yang membahas tentang keamanan.
"Jadi ada satu pesan khusus dari pariwisata nasional yang diterapkan di setiap lini masyarakat," kata Indira.
Ia mengatakan peranan pemerintah ialah memfasilitasi dan menciptakan cetak biru pariwisata nasional. Di dalam cetak biru tersebut, terdapat pemetaan pada `stakeholder mapping`, `tourism mapping`, dan `issue mapping`.
"Dari ketiga pemetaan tersebut barulah ditarik satu pesan yang benar-benar mewakili pariwisata Indonesia," kata Indira.
Ia menambahkan dengan dana yang terbatas namun cetak biru pariwisata nasional yang jelas, pemerintah seharusnya membuat `digital public relation` atau melakukan promosi pariwisata lewat dunia maya.
"Hal itu juga yang dilakukan Malaysia dengan pencitraan `The Truly Asia` nya," kata Indira menjelaskan.
Menurut Pengamat Ekonomi Mathiyas Thaib, strategi pemasaran memang diperlukan untuk mengembangkan potensi pariwisata di Indonesia.
"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana membuat pariwisata menjadi solusi ekonomi di Indonesia," kata Mathiyas.
Ia mengatakan, jika memang harus mempromosikan pariwisata nasional, maka pemerintah harus memilih beberapa lokasi saja di Indonesia untuk diangkat dan dibenahi. Sebab jika pemerintah harus mempromosikan seluruh wilayah di Indonesia maka akan menjadi pekerjaan yang sangat berat.
Menurut Mathiyas, pekerjaan rumah pariwisata nasinonal bukan hanya urusan departemen pariwisata saja, namun juga menjadi pekerjaan rumah departemen Pekerjaan Umum, Departemen Perhubungan, dan lain-lain.
Ia mengatakan pariwisata merupakan kekayaan Indonesia yang terpendam dan masih banyak sektor pariwisata yang bisa dikembangkan dengan strategi tertentu.
(Rosa Panggabean/FB/ant)
berita daerah advertising
DISCLAIMER | PRIVACY POLICY | TENTANG KAMI | HUBUNGI KAMI |
Copyright © 2006-2007 Beritadaerah.com, Powered by Jafam-ICT.com
Partners: lepmida.com - vibizlife.com - vibizlearning.com - vibizconsulting.com - vibizportal.com - vibiznews.com - vibizdaily.com - managementfile.com - visijobs.com - shoppingandnews.com - ictfiles.com
online counter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar