Hong Kong:
Sebutir Mustika di Mulut Naga
Hong Kong & Kowloon dilihat dari Victoria Peak (GATRA/Wiratmadinata)ALKISAH seekor singa menjaga sang naga, yang mulutnya menyimpan mustika. Di dalam ramalan Cina kuno yang jarang dikisahkan itu, singa yang dimaksud adalah seonggok bukit karang di daratan Kowloon, yang menyatu dengan Cina Daratan. Posisi bukit mirip singa tepekur itu mengarah ke Laut Cina Selatan, di mana Pulau Hong Kong berada. Adapun selat sempit memanjang, yang memisahkan kedua teritori itu, merupakan perwujudan seekor naga.
Dalam gambaran itu, Hong Kong Island seperti sebutir mustika di mulut seekor naga. Adapun singa tersebut sedang bersiaga di belakangnya, mengawal sang naga. Hong Kong adalah pulau harapan yang membawa kemakmuran. Penggambaran seperti itu merupakan perhitungan feng shui terhadap lanskap Hong Kong. Feng shui adalah ilmu metafisik Cina mengenai keadaan alam dalam hubungannya dengan peruntungan manusia.
Pada umumnya, orang Kanton, mayoritas etnik di bekas negara koloni Inggris itu, mempercayai pesan feng shui. Jangan heran jika Hong Kong merupakan daya tarik bisnis yang kuat. Banyak pengusaha mempertaruhkan nasib mereka di sana. Sejak zaman kolonial, orang Hong Kong menjuluki "bukit singa" karang tersebut dengan nama Lion Rock.
Posisinya persis berbatasan antara Kowloon dan Northern Teritory (NT), distrik paling utara dari Hong Kong, yang kini berstatus Daerah Administrasi Khusus (SAR) dari Republik Rakyat Cina. Status ini ditetapkan Pemerintah Cina setelah dikembalikan oleh Inggris, 1 Juli 1997. Adapun kawasan NT berbatasan dengan Sen Zhen, salah satu provinsi paling selatan di Cina Daratan. Di kaki "bukit singa" itu terdapat Lion Rock Tunnel, terowongan bawah tanah penghubung Kowloon-NT.
Stanley Market (GATRA/Wiratmadinata)Terlepas dari keabsahan "ramalan" feng shui di atas, Hong Kong memang berkembang pesat, modern dan makmur, dengan jumlah penduduk 6,8 juta. Kondisi menyenangkan tersebut relatif tak berubah, baik sejak jadi negara koloni Inggris maupun setelah kembali menjadi salah satu "provinsi" bagi Cina. Kalaupun ada terpaan badai "taifun" terhadap ekonomi Hong Kong, itu merupakan imbas krisis moneter global pada 1997. Kala itu, negara-negara maju di Asia, seperti Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia, juga ikut terpuruk.
Pepatah Cina kuno mengatakan,"di balik krisis selalu ada kesempatan", dan Pemerintah Hong Kong mencoba memperbaiki keadaan yang terpuruk tersebut. Salah satunya adalah memfokuskan devisa dari sektor pariwisata. Pemberdayaan sektor ini dianggap obat paling jitu, di tengah arus perdagangan yang mengalami masa sulit.
Maka, pemerintah pun mendorong Hong Kong Tourism Board (HKTB) untuk bekerja keras. Pasca-peristiwa epidemi flu SARS yang melanda kawasan Cina dan sebagian Asia Tenggara, pemerintah setempat malah menyediakan dana HK$ 1 milyar atau sekitar Rp 5 trilyun demi menyelamatkan sumber keuangan penting tersebut.
Hasilnya tidak mengecewakan. Tahun 2003, perekonomian Hong Kong mampu tumbuh 31% pada 2003. Target pada 2004, Hong Kong bakal menyedot 20 juta wisatawan. "Tahun 2004 adalah permulaan yang cerah bagi pariwisata Hong Kong," kata Clara Chong, Direktur Eksekutif HKTB, dalam sebuah konferensi pers.
Gebrakan lain juga dilakukan untuk mendukung target ini. Antara lain dengan dibukanya Avenue of Stars di Kowloon, yang menyerupai Hall of Fame di Hollywood. Hong Kong memang salah satu dari tiga negara industri film utama dunia, selain Amerika Serikat dan India, yang kini diperhitungkan konsumen.
Menggeliatnya ekonomi Cina --"naga Asia" yang juga ibu kandung Hong Kong--seakan membenarkan bahwa hoki "negara" di sisi Laut Cina Selatan ini bukan sekadar ramalan feng shui. Hong Kong mendapat berkah menjadi tempat persinggahan utama bagi para pebisnis yang hendak berurusan ke Cina. Para eksekutif dari seluruh dunia biasanya mampir dulu ke Hong Kong sebelum ke Cina Daratan. Umpamanya, ke Sen Zhen, Kwang Tung, Shanghai, atau ke Beijing.
Stanley Market (GATRA/Wiratmadinata)Sebaliknya, wisatawan dari Cina Daratan --yang dalam 10 tahun terakhir bergelimang kemakmuran berkah ekonomi terbuka Beijing-- makin merasa perlu mengunjungi Hong Kong. Trend kunjungan wisatawan "lokal" ini juga ikut menggerakkan roda ekonomi Hong Kong.
Di samping geliat ekonominya, infrastruktur dan kondisi alamnya juga memberi berkah tersendiri bagi Hong Kong. Keseriusan pemerintah setempat mengemas kota ini jadi tujuan wisata juga sangat berperan. Kota padat berhutan pencakar langit itu terus dipoles kian molek, bersih dan gemerlap. Hong Kong berhasrat menjadi "Asia World's City"--bagian dari selebriti kota-kota dunia-- seperti Paris, London, atau New York.
Namun, Hong Kong tetap ingin menyajikan masa lalunya yang eksotik. Kota ini tetap akan mengantar para pelancong untuk bisa menikmati derit roda trem, kedai teh dan ramuan-ramuan alam kuno, serta lelaki yang mengenakan tong sham sambil berlatih tai chi di taman-taman lengang.
Tampaknya, seperti ramalan feng shui di atas, Hong Kong tetaplah sebuah mustika di mulut naga. Pertanda kemakmuran, baik bagi rakyat Hong Kong maupun bagi Cina --sang "naga" sebenarnya-- bukanlah omong kosong. "So, live it, love it," kata Ketua HKTB, Selina Chow, saat meresmikan Avenue of Stars.
Wiratmadinata (Hong Kong)
[Suplemen, Gatra, Edisi 33 Beredar Jumat 25 Juni 2004]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar