Perang Adat Dayak Ngaju di Sungai Kapuas - 2007
Perang tidak selalu berdarah-darah hingga memakan korban. Perang juga bisa mengartikan proses penciptaan. Barangkali itu yang memaknai acara adat Dayak Ngaju saat memperingati puncak hari jadi kota Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang ke-200 tahun atau dua abad, Selasa (21/3).
Acara adat itu adalah pesta perang adat di Sungai Kapuas dengan menggunakan kapal-kapal motor. Pesta perang itu ditampilkan sebagai bagian dari upacara lalohan (proses pemberian atau hadiah).
Proses adat tersebut biasanya dilakukan pada upacara tiwah, yakni pengangkatan tulang belulang manusia dari alam kubur ke tempat penyimpanan. Acara lalohan bermaksud memberikan bantuan dari satu kampung kepada kampung lain yang menyelenggarakan tiwah.
Pementasan perang seperti itulah yang membuat warga kota Kuala Kapuas tumpah ruah di pinggiran Sungai Kapuas. Warga memadati kawasan rumah jabatan Bupati Kapuas yang menghadap sungai itu hingga sejauh satu kilometer dan menumpuk di Pelabuhan Danau Mare.
Kumpulan warga juga memenuhi puluhan perahu kelotok atau perahu motor tempel untuk menyaksikan tradisi yang hanya ada di sungai yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi dan sosial masyarakat Kuala Kapuas.
Hebatnya, pesta perang tidak dilakukan oleh sekelompok orang yang dipersiapkan untuk atraksi perang-perangan di atas kapal atau di darat dengan mandau atau tombak. Perang justru menjadi pesta rakyat, di mana warga yang hadir ikut dilibatkan dan larut ke dalamnya.
Perang bermula ketika Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang yang didaulat sebagai pemimpin perang berangkat dari Desa Sungai Pasah, Kecamatan Kapuas Hilir, seusai meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Betang, rumah adat khas Dayak. Dengan sebuah kapal yang mengangkut sekelompok pemuda, Teras Narang memimpin perang.
Dalam perjalanan tersebut, beberapa tokoh adat melakukan beberapa ritual dan memimpin acara tari-tarian perang. Mereka mengelilingi pohon pisang yang dilengkapi dengan tongkat bambu yang dibuat seperti perisai dan bibit kelapa. Seluruh penumpang kapal ikut menari dengan memegang batang tanaman suli. Mereka menggerakkan tangan seperti kepakan-kepakan burung enggang.
Begitu mendekati pelabuhan, mereka yang berada di kapal langsung berebut batang tanaman suli, yang bagian ujung batangnya terlebih dahulu telah dihancurkan. Tujuannya, agar ketika terjadi perang-perangan, yang terkena tidak mengalami sakit yang parah.
Begitu Teras Narang melemparkan satu batang suli, pentas perang adat dimulai antara mereka yang berada di kapal-kapal dan ribuan warga yang ada di pelabuhan. Aksi perang-perangan ini baru berakhir setelah batang suli yang ada di kapal habis.
Setelah kapal merapat di Pelabuhan Danau Mere, para tokoh masyarakat di sana berpelukan meluapkan rasa kegembiraan. Kini giliran acara adat terakhir, tetek pantan atau potong pantan, yakni memotong pohon penghalang sebagai lambang datangnya seorang pahlawan yang pulang dari medan perang membawa kemenangan.
Marko Mahin, antropolog dari Lembaga Studi Dayak-21 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengatakan, Pemerintah Kabupaten Kuala Kapuas mengangkat pementasan perang adat ini tidak saja sebagai atraksi wisata budaya, tetapi juga mengingatkan kembali akan kepercayaan masyarakat Dayak Ngaju tentang penciptaan alam semesta.
Perang adat tersebut, kata Marko, bukan bagian dari tradisi peperangan antarsuku Dayak sebelum terjadi perjanjian kesepakatan para panglima perang, kepala adat, dan kepala suku Dayak di Pulau Kalimantan untuk menghentikan perang antarsuku (asang) dan pemenggalan kepala (hakayau, ngayau, kayau). Denda adat berupa manusia diganti uang dan hukum adat sebagai peradilan suku pada 112 tahun yang lalu. Perjanjian damai itu dikenal sebagai Perjanjian Toembang Anoem 24 Juli 1894 di Tumbang Anom, sebuah dusun kecil yang terletak di daerah hulu Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah.
Kalaupun ada kaitannya, katanya, itu pada upacara tiwah di mana pada masa sebelum perjanjian itu, salah satu sesaji untuk mengantar jasad seorang panglima perang ke surga misalnya harus ditemani kepala manusia hasil ngayau. Kepala manusia itu kemudian diganti kerbau yang dikurbankan.
Tetapi, bagi Dayak Ngaju, pesta perang adat diadakan sebagai bagian dari kepercayaan mereka. Masyarakat Dayak Ngaju memercayai proses penciptaan alam semesta bermula dari perkelahian antara burung enggang jantan dan betina.
Bagi masyarakat Dayak, burung ini dipercaya sebagai hewan keramat. Dari perkelahian yang disebut "perkelahian ilahi" itulah kemudian tercipta alam semesta. Dari kepercayaan inilah dibuat pesta perang adat itu.
"Oleh karena itulah, tampilnya perang adat di kota Kuala Kapuas yang berumur dua abad menjadi sangat tepat karena bukan saja sekadar tontonan, juga memberi makna proses penciptaan, bisa sebagai spirit yang kuat membangun, dan menyejahterakan rakyat di kabupaten ini lebih baik lagi," tuturnya. (M SYAIFULLAH / kompas.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar